Senin, 11 Juni 2012

Wilayah Batavia Tempo Doeloe

Awal abad ke-19 tahun 1820-an, pemerintah kolonial Hindia-Belanda membagi wilayah administrasif di Indonesia sesuai identitas budayanya. Dengan demikian, pemerintah memahami karakter, kondisi geografis, dan penduduk setiap wilayah. Pengetahuan menyeluruh terhadap setiap wilayah administratif ini dimanfaatkan Belanda untuk meredam konflik dan mengendalikan kekuasaan mereka.
''Dengan semua pengetahuan itu, Belanda mudah menguasai kaum elite di wilayah masing-masing. Belanda juga bisa cepat mengidentifikasi kelompok2 pemberontak atau sebaliknya, mengembangkan potensi wilayahyang bersangkutan,'' tutur sejarawan Mona Lohanda.
Belanda mengindentifikasi budaya lokal melalui bahasa yg digunakan sehari-hari oleh keluarga dan komunitas setempat. berdasarkan hal itu, Belanda menetapkan wilayah Batavia berdasarkan penduduknya yang berbahasa Melayu pasar. Bahasa itu lalu dikenal sbg nahasa Betawi.
Berbasis pada bahasa penduduk yg menggunakan bahasa betawi itulah, wilayah administratif Jakarta kala itu lebih luas dibandingkan dengan wilayah administratif DKI Jakarta kini.
''Pada zaman pemerintahan kolonial Hindia Belanda, daerah bekasi, tangerang dan sekitar bogor termasuk wilayah administratif Jakarta. Sebab penduduk disemua kawasan itu menggunakan bahasa Melayu pasar atau betawi. Depok tidak termasuk karena sebagian penduduknya berbahasa Kreol dan bahasa sunda'' papar Mona.
Mona berpendapat, dari daerah pinggiran, bahasa dan budaya betawi mulai berkembang dari arah barat dan timur. budaya betawi di kawasan barat didominasi budaya cina, sedangkan di daerah timur dan sedikit ke selatan dipengaruhi budaya sunda.
Di kawasan kota, budaya betawi tumbuh di kalangan melayu, peranakan Arab, Cina, Belanda dan orang Jawa yang datang semasa Sultan Agung menyerang Batavia tahun 1628-1629. Di Jakarta Utara, Budaya betawi tumbuh di antara warga peranakan Portugis dan Melayu.
Sesungguhya komunitas yang sebarannya paling luas adalah orang Bali yang dibuang dari kampung asalnya. Mereka dijadikan budak atau milisi oleh Belanda. Mereka disukai Belanda dan para tuan tanah karena setia, bersih, dan terampil.
''memang ada etnis lokal lain yang ikut memperkaya budaya Betawi, seperti bugis, Flores, dan Ambon. Tetapi, menilik perbendaharaan kata-kata dalam bahasa Betawi,pengaruh mereka hanya sedikit mewarnai budaya Betawi,'' tuturnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar